Bismillah


Bismillah ya Rahmaan ya Rahiim
kusebut nama-Mu
dalam remang malam, kusebut nama-Mu

kubersimpuh dihadap-Mu
menetes air mata
tak sanggup kurangkai dengan kata-kata

nama-Mu begitu agung, ya Haliim
Engkau yang tak lelah mendengar
pintaku pinta hamba-Mu yang lain
yang hanya meminta dan meminta
terkadang lupa bersyukur
pada-Mu

yang lupa akan nikmat-Mu
yang membenci cobaan yang Engkau berikan
ya Allah ya Robbi

tak putus-putusnya kuberdoa
ya Ghoffaar ya Ghafuur
jangan biarkan aku jauh dari-Mu
jangan tinggalkan aku sendiri
walau pernah kuberburuk sangka pada-Mu
karna kutak sanggup menerima cobaan-Mu

Ya Allah, kubersimpuh pada-Mu
ampunilah hamba-Mu yang kecil ini…

Kategori: Puisi

Jauh Lebih Baik dari Budak ataupun Pembantu

Gambar oleh nkzs

Pekerjaan rumah tangga memang gak ada habisnya. Selesai memasak, harus membersihkan rumah. Setelah bersih, anak-anak juga dirawat. Saat mereka bermain, harus diperhatikan sembari mencuci, menyetrika. Selesai itu, anak-anak makan siang dan istirahat siang. Rumah kembali kotor, harus dibersihkan kembali. Kemudian menyiapkan keperluan untuk malam hari juga mempersiapkan diri dan anak-anak untuk menyambut kepulangan suami.

Subhanallah. Begitu setiap harinya. Merasa capaikah engkau, wahai ibu dan istri juga para akhwat? Merasa bosankah? Apa yang engkau inginkan? Hadirnya pembantu untuk meringankan bebanmu? Namun ternyata untuk menghadirkan pembantu yang sekedar membantu mencuci dan setrika bukan hal yang mampu tuk dilakukan dikarenakan biaya yang minim.

Tahukah bahwa dulunya Fathimah binti Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah merasakan capai karena banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya. Pekerjaan rumah tangga di zaman mereka jauh lebih berat dibandingkan kita saat ini. Mereka harus menggiling, mengadon tepung, mengambil air, dan pekerjaan berat lainnya. Saat itulah Fathimah menginginkan kehadiran seorang wanita pembantu.

Fathimah binti Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.

Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan permintaan anaknya yang disayanginya?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata. “Mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal itu ?” Kemudian beliau mengatakan bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. “Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”.

Di antara manfaat dzikir adalah :

  • Menghilangkan duka dan kekhawatiran dari hati.
  • Mendatangkan kegembiraan dan keceriaan bagi hati.
  • Memberikan rasa nyaman dan kehormatan.
  • Membersihkan hati dari karat, yaitu berupa lalai dan hawa nafsu.

Ketahuilah bahwa dzikir dengan mengingat Allah sebelum tidur dapat membawa manfaat dan meningkatkan kualitas tidur (istirahat). Istirahat yang cukup dan tenang dapat memberikan kesegaran baru dan semangat baru saat bangun di pagi keesokan harinya. Dengan semangat dan kesegaran baru maka kita akan dapat beraktifitas lagi tanpa membawa kegundahan di hari sebelumnya.

Subhanallah. Itulah jalan keluar yang ditawarkan Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kita. Tidakkah ingin mengambil manfaat dari dzikir ini?

Hadits lengkapnya berbunyi:

Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. “Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”. (Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293)

Kategori: Coretan, , , , , ,

Dia Bukanlah Yahudi…

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda:

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kata-kata, lisan adalah sesuatu yang begitu mudah diucapkan tapi sesuatu yang berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah Ta’ala, sebagaimana disebutkan pada firman Allah:

”Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya” (QS. Al Isra’ : 36)

Bahaya lisan itu sangat banyak, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga bersabda:

”Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya” (HR Timridzi)

Beliau juga bersabda:

”Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah kemungkaran.” (HR Tirmidzi)

Sebagai seorang muslim tentunya sebelum mengucapkan sesuatu harus terlebih dahulu menguasai ilmunya. Hari ini, hatiku tercekat saat seorang muslimah mengatakan bahwa salah seorang istri Nabi shalallahu ‘alahi wasallam beragama Yahudi.

Siapa itu Yahudi? Mereka adalah musuh bagi orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Sungguh akan kalian dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik).” (QS. al-Maa’idah : 82)

Shafiyyah radhiyallahu ‘anha telah memeluk agama Islam sebelum menikah dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini dijelaskan dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu disebutkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi menawarkan Islam bagi Shafiyyah dan diapun masuk Islam.  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilihnya untuk beliau, lalu membebaskannya dan menjadikan kebebasannya itu sebagai mahar. [HR. Al-Bukhari (7/360) dan Muslim (2/1043)]

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidak menyukai orang-orang yang menyebutkan Shafiyyah sebagai Yahudi, bahkan bila ucapan itu dari para istrinya sendiri. Hal tersebut pernah diucapkan oleh Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha serta menolak suruhan beliau sehingga beliaupun tidak mendekati Zainab selama 3 bulan. Hafshah radhiyallahu ‘anha juga pernah mengatakan Shafiyyah sebagai ‘Putri Yahudi’. Hal ini diketahui oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau menasehati Hafshah, “bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah”. (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa, hal. 43 dan selainnya).

Jadi, jangan sebut lagi dia sebagai Yahudi, bertakwalah kepada Allah.

Sumber rujukan online:

Kategori: Coretan,